Pages


Kamis, 20 Juni 2013

PERTANIAN DI NEGARA VIETNAM

EKONOMI PEMBANGUNAN PERTANIAN
PERTANIAN DI NEGARA VIETNAM



 





Oleh :
Susi Susanti                :           115040100111024
Vincensius Teguh       :           115040100111038
PROGAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2013

Pengelolaan pertanian di Vietnam sudah  menjadi agroindustri . Kebijakan Pemerintah Vietnam terhadap pembangunan pertaniansenantiasa terfokus sehingga pertanian bisa menjadi basic atau penyanggaperekonomian nasional. Mulai dari pengadaan pupuk, pembangunan infrastruktur seperti irigasi, proteksi hasil pertanian hingga memperhatikan nasib petani dan lainnya sangat diperhatikan pemerintah atau singkat katakebijakan dari hulu hingga ke hilir terselenggara secara konsisten.
Tidak ada kebijakan yang bersifat parsial, berkutat di teori namun Pemerintah Vietnam lebih terfokus mengatasi berbagai persoalan pertanian di negerinya. Hasilnya, pertanian tumbuh pesat dan nama Vietnam menjadi salah satu negara penghasil beras yang sangat diperhitungkan dalam duniaperdagangan internasional.
Itu sebagai pembanding, bagaimana pemerintah Indonesia bisa mencontoh pola pembangunan pertanian di negara yang sebenarnya terbilang kalahpengalaman dari segala hal dibandingkan Indonesia. Tidak ada maksud untuk mengecilkan peran pemerintah terutama Departemen Pertanian yangtelah gigih berupaya membangun sektor pertanian terutama untuk mengembalikan kejayaan swasembada beras di masa lalu namun banyak hal yang dilakukan Pemerintah Vietnam patut dicontoh.
Kembali berbicara pembangunan pertanian di Vietnam. Hal lain yang menonjol adalah tingginya etos kerja petani Vietnam. Jelas, simbiosis yang sangat menguntungkan karena kombinasi antara kebijakan pemerintah yang terfokus dan didukung tingginya etos kerja tersebut kian mempermudah grand design Pemerintah Vietnam untuk menjadikan jualan utama negara itu sebagai industri agraris. Wajar, kalau dalam beberapa tahun terakhir ternyata beras Vietnam selain mampu memenuhi kebutuhan domestik juga telah melakukan ekspor bahkan terkesan merajai ataumendominasi ke banyak negara termasuk Indonesia.
Kalau dulu negara di Asia terutama Asia Tenggara akan keberadaanIndonesia yang mampu melakukan swasembada beras dan ekspor ke banyak Negara, kini bendera kebanggaan itu beralih ke Vietnam. Bahkan, banyak negara memuji manuver Vietnam yang mampu mengangkatpertanian sebagai komoditas utama itu secara tidak langsung telah mensejajarkan diri dengan negara industri raksasa seperti Jepang, Korea hingga negara maju Eropa lainnya.
Dalam kerangka Forum Ekonomi Dunia ke -42 yang sedang berlangsung di kota Davos, Swiss, pada sidang spesialis tentang penggelaran “Visi baru dalam pertanian” yang diadakan pada akhir pekan lalu, Vietnam telah dikemukakan sebagai satu tipikal yang menonjol dalam mendorong pengembangan pertanian di kalangan negara-negara sedang berkembang. Tercapainya hasil ini adalah karena  kebijakan yang tepat dari Partai Komunis dan Negara Vietnam terhadap pertanian dan pedesaa
Sejak Kongres Nasional ke-6 Partai Komunis Vietnam tahun 1986, pertanian telah ditetapkan sebagai satu front ekonomi utama. Partai Komunis dan Pemerintah Vietnam selalu memperhatikan pengembangan pertanian dan pedesaan, menganggap ini sebagai satu bidang yang strategis terhadap perkembangan sosial-ekonomi Tanah Air. Oleh karena itu, pertanian dan pedesaan Vietnam telah mengalami kemajuan-kemajuan yang kuat. Produksi pangan telah meningkat 2,5 kali lipat terbanding dengan tahun 1985. Produksi daging meningkat 5 kali lipat, hasil perikanan meningkat 6 kali lipat, taraf peliputan hutan meningkat 3 kali lipat. Pertanian telah tidak hanya  mencukupi bahan pangan dan makanan untuk  penduduk di dalam negeri, tetapi juga berhasil mengekspor sejumlah besar hasil pertanian, kehutanan dan perikanan. Khususnya ialah kebijakan menyampaikan hak kemandirian melakukan bisnis yang ditetapkan pada Kongres Nasional ke-10 Partai Komunis Vietnam telah mengizinkan kaum tani mendekati tanah dan sumber-sumber daya alam lainnya seperti hutan, laut, permukaan air, ditambah lagi ialah kebijakan liberalirasi perdagangan dan investasi telah menciptakan tenaga pendorong yang segungguhnya terhadap pertanian barang dagangan. Dari mengalami kelaparan dan krisis bahan pangan, Vietnam telah maju menjadi negara kedua di dunia tentang ekspor beras.
Menurut Dang Kim Son, Kepala Institut Kebijakan dari Kementerian Pertanian dan Pengembangan Pedesaan Vietnam, berkat adanya mekanisme pasar, ekonomi Vietnam pada umumnya dan ekonomi pertanian dan pedesaan pada khususnya telah mengalami perubahan yang penting. Kestabilan politik dan sosial pada latar belakang dunia mengalami banyak gejolak juga diciptakan dari laju pengentasan dari kemiskinan secara teratur dua persen yang dicapai selama puluhan tahun terus-menerus, diantaranya, pertanian dan pengembangan pedesaan memainkan peranan yang penting. Justru pertanian telah menciptakan sebagian besar lapangan kerja dan pendapatan kepada kaum tani, khususnya di daerah pedalaman, daerah pelosok dan daerah pemukiman rakyat etnis minoritas. 
Bersama dengan kebijakan-kebijakan pembaruan kuat terhadap perekonomian, di bidang pertanian, Partai Komunis dan Negara selalu memberikan pengarahan yang tepat dalam mengembangkan zona-zona ekonomi titik berat. Untuk melaksanakan kebijakan menggeserkan areal hutan  ke penanaman pohon bahan industri yang punya nilai tinggi, semua daerah telah melakukan survey, perancangan, menyusun ratusan proyek untuk memindah  tanah kehutanan,  hutan miskin ke tanah untuk menanam  pohon bahan industri yang mempunyai nilai tinggi, turut memecahkan masalah lapangan kerja yang stabil, meningkatkan pendapatan untuk jutaan pekerja, terutama  para pekerja rakyat etnis minoritas di tempat.        
Karena sudah semakin menyedari dengan jelas akan peranan penting dari  ekonomi pertanian, daerah pedesaan dan tuntutan perkembangan manusia di daerah-daerah ini, maka pada tahun 2008, Partai Komunis telah mengeluarkan Resolusi 26 tentang pertanian, kaum tani dan pedesaan. Program percontohan pola pedesaan baru  telah digelarkan sejak tahun 2009 di 11 kecamatan percontohan, yang mewakili semua daerah  di seluruh negeri, dengan target menguji semua metode, cara bertindak, mekanisme dan kebijakan. Sampai sekarang, program percontohan telah mencapai kemenangan permulaan  dan mencapai hasil yang penting. Di atas dasar membangun pedesaan baru, menggelarkan Resolusi 26 selama beberapa tahun ini, Vietnam telah membuat program Target Nasional tentang pembangunan pedesaan baru tahap 2010-2020, yang menurut itu berusaha sampai tahun 2015, di seluruh negeri, akan ada 20 persen kecamatan yang mencapai  patokan pedesaan baru. 
      
            Dari sukses yang didapat  dari pola ladang percontohan dengan areal seluas besar di propinsi An Giang (Vietnam Selatan), banyak propinsi dan kota di daerah dataran rendah sungai Mekong juga sedang menerapkan  dengan kuat pola ini, menciptakan konektivitas antara kaum tani dengan badan-badan usaha, menjanjikan mendatangkan efektivitas paling besar kepada perekonomian. 
 Untuk mengembangkan prestasi-prestasi yang sudah dicapai  selama lebih dari 25 tahun pelaksanaan pembaruan, pertanian Vietnam sedang terus menggelarkan dengan kuat kebijakan-kebijakan penting  supaya pertanian benar-benar berkembang sesuai dengan potensi dan sosok yang lebih besar lagi. Tidak hanya sebagai prajurit pembidas di front pembaruan, maka pertanian Vietnam sedang terus menegaskan peranan-nya sendiri sebagai serdadu utama di front industrialisasi dan modernisasi Tanah Air.
Pertanian entrepreneurship di Vietnam bisa menjadi magnet penyadarbagi negara agraris lainnya termasuk Indonesia. Memang, hingga saat ini negara tersebutmasih konsisten dengan paham komunis namun dalam melakukan pembangunan mereka telah mereformasi diri, membuka aksespasar yang terfokus pada market oriented dengan berlandaskan kapitalisme. Dan, yang menjadi catatan penting pengiringnya,pembangunan di segala bidang termasuk sektor petanian di Vietnam ternyata lepas dari intrik-intrik politik. Atau dengan kata lain, tidak ada politisasi pertanian.
Kita tentu mengharapkan pemerintah Indonesia kian konsisten dalammembenahi dan membangun sector pertanian. Secara teoritis, 12 kegiatan strategis Deptan atas persetujuan Komisi IV DPR seperti program penyediaan infrastruktur, penguatan lembaga ekonomi pertanian, stabilisasi harga komoditas primer dan lainnya sudah cukup bagus. Tinggal implementasi untuk mengubah dari potensi besar itu menjadi kenyataan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat terutama kaum petani.
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan. Pertama, pemerintah harus membuang sejauh mungkin atau paling tidak meminimalisasi kepentingan politis seperti mencari dukungan menjelang Pilkada atau sekadar menarik simpati rakyat dalam pembangunan sektor pertanian. Pembangunanpertanian harus terfokus , jangan terkesan parsial dan banyak ditunggangikepentingan politik yang bernuansa bisnis seperti tender pengadaan pupuk bahkan pembangunan infrastruktur seperti irigasi yang tidak transparan.
Kedua, goodwill pemerintah harus ditujukan ke goal oriented bukan target oriented. Kebijakan yang dijalankan harus benar-benar ditujukanuntuk mengangkat derajat petani sekaligus memajukan sektor pertanian.Peningkatan hasil (kuantitas) hendaknya juga diiringi denganterdongkraknya kualitas. Kekuatan potensial pertanian di Indonesia, mulai dari Sabang hingga ke Merauke harus menjadi kekuatan riril. Jika pembangunan sector pertanian telah terdokus atau terpadu, niscaya kejayaan untuk kembali menjadi swasembada beras itu akan kembali diraih. Setelah itu, baru kita berani bicara dengan upaya mensejajarkan diri dengan negara agraris lainnya yang telah menjadi agro industri pertanian seperti Vietnam. 
Berikut adalah beberapa komoditas pertanian di Negara Vietnam yang menjadi peranan penting perekonomian negara tersebut
1)      BERAS
Beras memainkan peran paling penting di antara komoditas-komoditas pertanian di Vietnam dalam hal keamanan pangan, lapangan kerja dan upah pedesaan, serta pendapatan ekspor. Beras ditanam di separuh tanah pertanian dan melibatkan hampir 80% populasi pertanian.
Vietnam merupakan salah satu eksportir beras terbesar di dunia. Pada tahun 2010, ekspor beras Vietnam mencapai rekor tertinggi dengan total volume ekspor beras mencapai 6 juta ton, tahun 2011 mencapai 6,8 juta ton. Sementara itu, dalam 9 (sembilan) bulan pertama 2012, Vietnam telah ekspor 6 juta ton beras senilai US$ 2,6 miliar, dan ditargetkan ekspor beras Vietnam hingga akhir tahun akan mencapai 7,1 juta ton dengan nilai USD 3,65 miliar. 
Vietnam merupakan negara nomor dua setelah Thailand sebagai eksportir beras terbesar. Importir utama beras Vietnam meliputi Indonesia, Filipina, Malaysia, Irak, Kuba dan Afrika

2)      KOPI
Kopi merupakan salah satu ekspor pertanian Vietnam yang paling penting. Vietnam sangat kompetitif sebagai produsen kopi karena kondisi lingkungan dan iklim yang ideal, biaya produksi yang rendah, dan hasil panennya merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Kopi merupakan komoditi ekspor yang cukup menjanjikan bagi Vietnam, yang memiliki lahan tanam kopi seluas 521.000 hektar dengan produksi rata-rata 1,2-1,5 juta ton per tahun.
Menurut sumber International Coffee Organisation (ICO),Vietnam telah mengambil alih posisi Brazil menjadi  eksportir kopi terbesar di dunia. Sejak bulan Januari – Juli 2012 Vietnam telah mengekspor 1,2 juta ton kopi atau senilai US$ 2,5 miliar.  Volume ekspor meningkat 31,6% dan nilainya naik 25,4%. Harga ekspor kopi robusta rata-rata mencapai US$ 2.154 per ton atau naik 2,57% dibanding tujuh bulan pertama tahun 2011. Pada tahun 2010, volume ekspor mencapai 1,173 juta ton (US$ 1,76 miliar); tahun 2011  mencapai 1,2 juta ton (US$ 2,7 miliar).
Vietnam Coffee and Cacao Association (VICOFA) mengatakan bahwa ekspor kopi Arabika telah meningkat pesat dari tahun ke tahun, dari 24.000 ton pada 2009 menjadi 41.000 ton pada 2010 dan 50.000 ton pada 2011. Harga ekspor naik hampir dua kali lipat, dari US$ 2.313 per ton pada 2009 menjadi US$ 4.261 per ton pada tahun 2011. Kopi Arabika disukai oleh konsumen dari  AS, Jerman, Jepang, Italia dan Belgia. 

Vietnam mengekspor biji kopi ke 90 negara, di mana 16 di antaranya mencakup 79% total ekspor biji kopi Vietnam. Dua pasar besar di Asia – Jepang dan Korea – juga merupakan pelanggan penting Vietnam. Pasar tetap di kalangan negara-negara Asia Tenggara adalah Filipina, Malaysia, dan baru-baru ini, Indonesia.
Jerman merupakan pelanggan terbesar Vietnam, Amerika Serikat merupakan pembeli terbesar kedua kopi hijau Vietnam (setelah Jerman) dan mencakup 16 persen total ekspor kopi hijau Vietnam. Vietnam juga mengekspor sejumlah kecil kopi panggang bubuk dan campuran kopi 3-in-1 ke Amerika Serikat.
Penjualan Vietnam tidak terbatas pada pasar utama di Eropa dan AS. Ia memiiki pasar yang beragam dan berkelanjutan,mengekspor ke negara-negara Amerika Latin, Timur Tengah, Afrika dan ASEAN.

3)      BUAH-BUAHAN & SAYURAN
                 Berkat keunggulan kondisi alam dan karakteristik iklim masing-masing wilayah yang menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi keanekaragaman buah-buahan dan sayuran, kedua jenis tanaman Vietnam ini telah mengalami pekembangan pesat. Ekspor Vietnam telah tumbuh dengan kuat sejak awal tahun 1990-an.
                 Ekspor utama produk buah-buahan dan sayuran negara ini meliputi buah-buahan kaleng, buah-buahan kering, gherkin (serupa dengan mentimun), buah naga, lengkeng, durian, anggur, serta sayuran segar dan kering.
Pada tahun 2004 hingga 2009, total pendapatan ekspor mendekati US$ 2 miliar, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 20% per tahun. Pada tahun 2009, Vietnam mengekspor US$ 439 juta buah-buahan dan sayuran sedangkan pendapatan ekspor 6 bulan pertama mencapai US$ 222 juta, sebuah peningkatan sebesar 6% dibanding periode yang sama tahun lalu. (Sumber: Departemen Umum Bea Cukai Vietnam.)
Vietnam telah menetapkan target untuk mengekspor buah-buahan, sayuran dan bunga senilai US$ 760 juta pada tahun 2010, senilai US$ 600 juta pada tahun 2011. Ditargetkan akan mencapai US$ 1,2 miliar pada tahun 2020.
                 Baru-baru ini, berkat usaha terus-menerus eksportir yang menjelajahi pasar-pasar baru, buah-buahan dan sayuran Vietnam dijual di 50 negara. Sekitar 40% pendapatan ekspor diperoleh dari AS, Negeri Belanda, Rusia, Cina, Jepang, Taiwan, Jerman, Prancis, Inggris, Ukraina, Kanada, Korea Selatan, Singapura dan Thailand. Penjualan ke Cina, Rusia, Taiwan dan Jepang sangat besar.

4)   KARET
                 Vietnam, eksportir kelima terbesar karet alam, mengekspor 90% karetnya, salah satu ekspor pertanian paling penting Vietnam.
Pada tahun 2009, Vietnam menanam 640.000 hektar karet dan mengekspor 680.000 ton senilai US$ 1,2 miliar ke 70 pasar. Ekspor karet tahun 2010 mencapai 780.000 ton, senilai US$ 2,3 miliar, tahun 2011 mencapai 827.000 ton (US$ 3,2 miliar). Diperkirakan ekpor volume karet akan naik 14% menjadi 920.000 ton pada tahun 2012.
                 Hampir seluruh pasar ekspor untuk karet Vietnam mengalami pertumbuhan dramatis. Cina, pembeli terbesar karet Vietnam, menyumbang pendapatan sebesar US$ 378 juta, Jepang sebesar US$ 14 juta, dan AS menyumbang sebesar US$ 17 juta. Hal yang patut dicatat adalah di luar pasar  tradisional, Vietnam telah menarik pasar-pasar baru, termasuk Indonesia, Rusia, dan Ceko, yang paling baru Polandia juga telah membeli karet Vietnam.
Rencana pemerintah untuk Vietnam adalah menanam 800.000 hektar karet pada tahun 2020, mencapai output lateks sebesar 1,2 juta ton dan meraih nilai ekspor sebesar US$ 2 miliar.

5)   LADA
                 Vietnam, salah satu eksportir utama rempah-rempah, mengklaim 5% pangsa pasar dunia. Untuk lada hitam, tanaman paling penting bagi Vietnam di sektor ini, Vietnam telah menjadi eksportir terbesar nomor dua. Sektor lada Vietnam sangat berorientasi ekspor, di mana ekspor mencakup 95% produksi.
Pada tahun 2009, Vietnam mengekspor 134.264 ton lada, meraih total pendapatan ekspor sebesar US$ 348 juta, menciptakan rekor baru dalam volume ekspor dan nilai produk lada, melebihi tiga negara pengekspor lada besar yakni Indonesia (40.000 ton), Brazil (32.000 ton) dan India (22.000 ton).Pada tahun 2010, Vietnam mengekspor 116.000 ton (US$ 419.000); tahun 2011 mengekspor 120.000 (US$ 720.000 juta).
                 Menurut data Vietnam Pepper Association (VPA), dalam delapan bulan pertama tahun 2012 total nilai ekspor lada mengalami kenaikan 3,7% menjadi US$ 581 juta, sedangkan volume ekspor lada  mengalami penurunan 16,7% menjadi 83.000 ton dibanding periode yang sama tahun lalu. VNA memperkirakan total nilai ekspor lada Vietnam tahun 2012 akan mencapai sebesar US$ 780 juta  apabila harga lada tetap tinggi atau lebih dari US$ 7.000 per ton. Sedangkan total volume ekspor lada akan mencapai antara 110.000 - 115.000 ton. Saat ini Vietnam tercatat sebagai salah satu eksportir terbesar di pasar internasional, dimana Vietnam mampu memasok sekitar 40 – 50% dari seluruh ekspor lada global.
                 Tujuan utama lada Vietnam beralih dari negara-negara ASEAN pada tahun 1990-an menjadi AS, UE, dan Timur Tengah pada tahun 2000-an. AS tampil sebagai pembeli terbesar, diikuti oleh India, Negeri Belanda, Jerman, dan Arab Saudi. 

6)   KACANG METE
                 Kinerja ekspor Vietnam untuk kacang-kacangan selama beberapa tahun terakhir sangat mengesankan, terutama untuk kacang mete, yang saat ini merupakan kacang yang paling banyak diekspor, diikuti oleh kacang tanah.
Vietnam terus menunjukkan pertumbuhan ekspor yang cepat selama beberapa tahun terakhir, merebut pangsa pasar dari para kompetitor utamanya – India dan Brazil.
                 Vietnam terus membangun kapasitas pengolahannya; alhasil, ia telah beralih dari eksportir kacang mete mentah menjadi kacang mete olahan.
Nilai ekspor Vietnam untuk kacang mete berjumlah US$ 1,136 miliar pada tahun 2010, menjadikan kacang mete sebagai salah satu ekspor pertanian paling penting setelah beras, kopi dan karet. Pada tahun 2011, nilai ekspor mencapai US$ 1,4 miliar.
                 Kacang mete Vietnam telah diperkenalkan ke sekitar 30 negara di seluruh dunia, di mana AS menjadi pasar terbesar. AS mencakup 29% dari total ekspor, diikuti oleh Cina, Negeri Belanda, Australia, Inggris dan Kanada.



DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa.2013.Pertanian Entrepreneurshio di Vietnam. http://mukhtarudin.blogspot.com/2008/06/pertanian-entrepreneurship-di-vietnam.html di akses pada 2 Mei 2013

Anonymousb..2013.Menegaskan Peranan Pertanian dalam Pereekonomian Vietnam. http://vovworld.vn/id-id/Ulasan-Berita/Menegaskan-peranan-pertanian-dalam-perekonomian-Vietnam/66471.vov di akses pada 2 Mei 2013


Anonymousc.2013.Pertanian dan Perikanan. http://www.informasi-vietnam.com/2012/10/pertanian-perikanan.html di akses pada 2 Mei 2013

1 komentar:

Nurdiyanto Alphin mengatakan...

blognya ok, isinya mantap..semoga pertanian di Indonesia semakin sukses dan maju..

Posting Komentar