Pages


Jumat, 18 Januari 2013

PRESPEKTIF PERILAKU KONSUMEN


T
1.      Deskripsikan empat elemen model analisis Perilaku Konsumen.
a)      Afeksi (affect) dan kognisi (cognitive)
Elemen afeksi dan kognisi merupakan dua tipe tanggapan internal psikologis pada diri konsumen terhadap rangsangan lingkungan dan kejadian yang berlangsung. Afeksi mengacu pada tanggapan perasaan sedangkan kognitif melibatkan tanggapan mental (pemikiran). Afeksi dan kognisi ditimbulkan oleh system afeksi dan kognisi secara berurutan, walaupun berbeda namun saling terkait.
1)      Kognisi (kognitive)
Secara harfiah, arti dari kognisi adalah “pengetahuan”, sedangkan pengetahuan konsumen itu sendiri berarti jumlah pengalaman atau informasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap suatu barang atau jasa tertentu (Moven & Minor,2003). Pengetahuan tentang suatu barang atau jasa tertentu  dapat diperoleh dari pengalaman dan pengetahuan yang tertanam dalam memori. Aspek kognitif biasa terjadi melalui proses berpikir sadar ataupun dapat terjadi secara tidak sadar. Keyakinan dan pengetahuan tentang produk ini berbeda antara satu konsumen dengan konsumen yang lain. Kepercayaan tentang atribut suatu produk biasanya dievaluasi secara alami. Sehingga konsumen mamapu membandingkan suatu produk dengan produk lain dan membuat keputusan yang baik dan tepat terhadap produk yang dipilihnya tersebut.
2)      Afeksi (affect)
Perasaan dan reaksi emosional kepada suatu objek tertentu yang menunjukkan komponen afektif dari sikap. Konsumen yang menyukai suatu produk merupakan hasil dari emosi atau evaluasi afektif dari suatu produk. Evaluasi ini terbentuk tanpa adanya informasi kognitif atau kepercayaan tentang produk tersebut. Atau merupakan hasil evaluasi dari penampilan produk pada setiap atributnya. Tanggapan afeksi beragam, misal penilaian positif atau negatif dan rasa suka atau tidak suka.Umumnya keyakinan konsumen akan suatu produk melekat erat dengan perasaannya. Emosi yang melekat pada keyakinan konsumen sangat ditentukan oleh situasi dan kondisi internal individunya. Jelasnya perasaan suka atau tidak suka ini banyak ditentukan oleh keyakinan konsumen, namun belum tentu setiap konsumen yang memiliki keyakinan yang sama akan menunjukkan emosi yang sama. Hal ini disebabkan karena masing-masing individu memiliki situasi latar belakang yang berbeda.
Perasaan yang merupakan hasil evaluasi dari atribut produk ini dapat juga mempengaruhi keyakinan konsumen bahkan bisa merubah keyakinannya (Ferrinadewi, 2008). Tanggapan afeksi diciptakan oleh system afektif yang mempunyai 5 sifat dasar yaitu, umumnya relative, memiliki control langsung yang kecil, secara fisik ada di dalam tubuh manuasia, dan dapat menanggapi berbagai jenis rangsangan.
Menurut Peter dan Olson (1999), afeksi (affect) dan kognisi (cognition) mengacu pada dua tipe tanggapan internal psikologis yang dimiliki konsumen terhadap rangsangan lingkungan dan kejadian yang berlangsung. Dalam bahasa yang lebih sederhana, afeksi melibatkan perasaan, sementara kognisi melibatkan pemikiran. Tanggapan-tanggapan afektif beragam dalam penilaian positif atau negatif, menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan dalam intensitas atau tingkat pergerakan badan. Kognisi mengacu pada proses mental dan struktur pengetahuan yang dilibatkan dalam tanggapan seseorang terhadap lingkungannya. Misalnya, termasuk di dalamnya adalah pengetahuan yang didapat orang dari pengalamannya dan yang tertanam dalam ingatan mereka. Termasuk juga didalamya proses psikologis yang terkait dengan pemberian perhatian dan pemahaman terhadap aspek-aspek lingkungan, mengingat kejadian masa lalu, pembentukan evaluasi, dan pembuatan keputusan pembelian. Sementara berbagai aspek kognisi adalah proses berpikir sadar, dimana proses kognisi dilakukan secara tak sadar dan otomatis. Sehingga baik afeksi maupun kognisi sangat dibutuhkan untuk memahami perilaku konsumen.
b)      Lingkungan konsumen
         Lingkungan konsumen terbagi ke dalam 2 macam, yaitu
Ø  Lingkungan sosial adalah semua interaksi sosial yang terjadi antara konsumen dengan orang sekelilingnya atau antara banyak orang. Lingkungan sosial adalah orang-orang lain yang berada di sekeliling konsumen dan termasuk perilaku dari orang-orang tersebut.
Berdasarkan kedekatannya dengan konsumen, lingkungan konsumen terbagi dalam lingkungan makro dan lingkungan mikro.
ü  Lingkungan mikro adalah lingkungan yang sangat dekat dengan konsumen, yang berinteraksi langsung dengan konsumen. Lingkungan mikro akan mempengaruhi perilaku, sikap, dan kognitif konsumen tertentu secara langsung. Keluarga yang tinggal dengan konsumen adalah lingkungan mikro.
ü  Lingkungan makro adalah lingkungan yang jauh dari konsumen. Lingkungan makro berskala luas, seperti sistem politik dan hukum, ekonomi, sosial, budaya. Contoh : penurunan dolar akan mempengaruhi daya beli konsumen.
Ø  Lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang berbentuk fisik di sekeliling konsumen. Yang termasuk lingkungan fisik adalah beragam produk, toko, lokasi toko, dan lain-lain. Contoh : rumah adalah lingkungan mikro fisik dari konsumen, karena akan mempengaruhi sikap dan perilaku secara langsung (Sumarwan, 2003).
Lingkungan (environment) mengacu pada rangsangan fisik dan sosial yang kompleks di dunia eksternal konsumen. Termasuk didalamnya benda-benda, tempat, dan orang lain yang mempengaruhi afeksi dan kognisi konsumen serta perilakunya.  Bagian penting dari lingkungan adalah rangsangan fisik dan sosial yang diciptakan oleh pemasar untuk mempengaruhi konsuman. Termasuk didalamnya adalah produk, iklan, pernyataan verbal oleh salesman, label harga, lampu tanda, dan toko. Semua hal tersebut sangat diperlukan dalam memahami perilaku konsumen (Peter dan Olson, 1999). Konsumen hidup di dalam lingkungan yang kompleks. Perilaku proses keputusan mereka dipengaruhi oleh budaya, kelas sosial, pengaruh pribadi, keluarga, dan situasi.
c)       Perilaku (behaviour)
Keyakinan dan rasa suka pada suatu produk akan mendorong konsumen melakukan tindakan sebagai wujud dari keyakinan dan perasaannya (Ferrinadewi, 2008).
Sebagian dari perilaku konsumen seperti memandangi produk di rak, memungut dan meneliti bungkus, mengarahkan roda kereta dan seterusnya tidak akan menarik perhatian seorang manajer pemasaran, beberapa perilaku memiliki pengaruh penting bagi afeksi dan kognisi konsumen serta pembelian dadakan yang dilakukan, contohnya jika tidak melalui lorong tempat sereal sarapan dijual, konsumen tidak akan melihat dan membeli sereal yang dijual. (Peter dan Olson, 1999)
d)      Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran adalah bagian dari lingkungan serta terdiri dari berbagai rangsangan fisik dan sosial. Termasuk di dalam rangsangan tersebut adalah produk dan jasa, materi promosi atau iklan, tempat pertukaran atau toko eceran, dan informasi harga atau label harga yang ditempel pada produk. Penerapan strategi pemasaran melibatkan penempatan rangsangan pemasaran tersebut di lingkungan konsumen agar dapat mempengaruhi afeksi, kognisi, dan perilaku mereka.
Startegi pemasaran dapat mempengaruhi setiap elemen lainnya (seperti afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungan) dan sebaliknya, dapat dipengaruhi oleh setiap faktor tersebut. Contohnya, penempatan papan iklan jasa layanan mobil di dekat pintu keluar jalan tol mengubah tata ruang (lingkungan) dan dapat mengubah keinginan konsumen (kognisi) untuk berhenti membeli bensin, dan pada akhirnya mendorong konsumen berbelanja di toko sekitarnya., Adanya strategi pemasaran yang diciptakan oleh pemasar akan mampu mempengaruhi perasaan dan pemikiran seseorang, selain itu strategi pemasaran ini menstimulus afeksi dan kognisi seseorang melalui lingkunganya. Hubungan-hubungan di atas pada akhirnya menimbulkan suatu tindakan yang disebut dengan perilaku seorang konsumen.

2.      Jelaskan bahwa hubungan timbal balik lebih mencerminkan fenomena riil dalam proses pengambilan keputusan konsumen dari pada hubungan satu arah atau sebab akibat!
            Secara umum, sebagian besar pendekatan mengacu pada hubungan satu arah sebab dan akibat. Misalnya, beberapa periset kognitif hanya pada dampak kausal dari faktor kognitif pada perilaku, sementara beberapa periset lainnya berorientasi perilaku berfokus hanya pada dampak kausal lingkungan pada perilaku. Meskipun pendekatan satu arah tersebut memiliki nilai, pendekatan ini dapat membuat para periset dan pemasar strategis melupakan hubungan lain yang ada antara afeksi dan kognisi, perilaku, dan lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini dipercaya bahwa akan sangat berguna untuk memandang hubungan antara elemen-elemen ini sebagai suatu interaksi yang berkesinambungan, yang disebut sebagai penetapan timbal balik (resiprocal determinism). Timbal balik mengacu pada aksi saling menguntungkan di antara faktor, dan penetapan mengindikasikan dampak yang diakibatkan oleh faktor tersebut. Dengan demikian penetapan timbal balik berarti setiap elemen pada model menyebabkan elemen lain, dan sebaliknya, disebabkan oleh elemen lainnya, biasanya dalam suatu urutan kejadian yang berkesinambungan. Contoh : selera pribadi melibatkan afeksi dan kognisi; menonton tv adalah sumber informasi, dan acara tv serta ketersediaannya adalah bagian dari lingkungan tv. Berdasarkan contoh di atas, digambarkan adanya hubungan satu arah yang mungkin di antara afeksi, kognisi, perilaku, dan lingkungan. Jelaslah bahwa setiap elemen dari model mempengaruhi dan dipengaruhi oleh elemen yang lain; dengan demikian mereka ditetapkan secara timbal balik. Oleh karena itu, hubungan satu arah sebab akibat yang sederhanapun tidak mampu memberikan penjelasan lengkap bahkan untuk kejadian sederhana. Pasti selalu ada keragaman interaksi kausal yang terlibat (Peter dan Olson, 1999). Menurut Peter dan Olson (1999) empat hal penting dapat dibuat mengenai penetapan timbal balik dan hubungan antara elemen pada model.
3.      Analisis menyeluruh perilaku konsumen harus mempertimbangkan ketiga elemen tersebut secara keseluruhan. Penjabaran perilaku konsumen didasarkan pada satu atau dua elemen tidaklah lengkap. Contohnya, menyatakan bahwa afeksi dan kognisi menyebabkan perilaku berarti meniadakan pengaruh lingkungan, menyepelekan sifat dinamis perilaku konsumen, dan dapat membuat strategi pemasaran menjadi kurang efektif.
4.       Pentingnya menyadari bahwa sebagian dari ketiga elemen tersebut dapat menjadi titik awal analisis konsumen. Pada contoh tenteng televisi, analisis dimulai dengan selera konsuman; kita dapat memualainya dengan perilaku menonton TV atau dengan lingkungan program televisi. Meskipun demikian, karena pemasar kadangkala tertarik untuk mempengaruhi perilaku, analisis konsumen seringkali harus dimulai dengan berfokus pada perilaku.
5.      Model bersifat dinamis; memandang perilaku konsumen sebagai suatu proses perubahan yang berkelanjutan. Mungkin kita dapat memberikan penjabaran yang baik tentang konsumen berdasarkan elemen tersebut pada suatu waktu, tetapi pada saat yang bersamaan sebagian dari elemen tersebut mungkin telah berubah. Oleh karena itu, hasil dari riset konsumen seringkali dengan cepat menjadi basi.
6.      Model dapat diterapkan pada berbagai tingkatan analisis. Yaitu, dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan serta perubahan diantara afeksi dan kognisi, perilaku, serta lingkungan untuk seorang konsumen, satu grup konsumen (misalnya suatu target pasar tertentu), atau untuk masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, kita percaya bahwa model tersebut adalah model umum yang dapat diterapkan pada berbagai macam permasalahan pemasaran dengan baik.
Dalam proses pengambilan keputusan, hubungan sebab-akibat kurang mencerminkan fenomena riil yang ada. Hal itu dikarenakan pada umumnya konsumen tidak semata-mata membandingkan dan memilih berbagai macam produk dan memilih satu produk yang sesuai dengan kebutuhannya. Seperti halnya yang digambarkan dalam hubungan sebab-akibat yang berfokus pada dampak kausal. Hubungan sebab akibat : Konsumen cenderung melalui proses yang lebih kompleks dalam pengambilan keputusan hingga memperoleh barang yang dikehendakinya. Seperti yang digambarkan dalam hubungan timbal balik dari keseluruhan elemen (efeksi dan kognisi, perilaku, lingkungan serta strategi pemasaran). Adanya stimulus merupakan faktor yang merangsang konsumen untuk melakukan pengambilan keputusan. Adakalanya konsumen belum mengetahui tentang barang yang akan dibelinya (stimulus ambiguity). Oleh karena itu konsumen harus mencari informasi dahulu mengenai barang yang akan dibelinya (overt search). Setelah itu konsumen memperoleh informasi singkat mengenai barang yang akan dibelinya (attention). Karena hanya sebagian saja informasi tentang barang itu yang dapat diingat oleh konsumen tersebut, maka dalam proses memori terjadilah perceptual bias. Konsumen itu akan dapat mengingat informasi mengenai barang yang akan dibelinya secara lebih baik apabila ia betul-betul membutuhkan barang tersebut atau jika ia sebelumnya banyak bertannya mengenai barang tersebut (hal ini merupakan exogenous variables). Tahap berikutnya merupakan formasi dari sikap (atitude). Hal ini dilakukan dengan merangkaikan kriteria memilih (choice criteria) dan memahami merek (brand comprehension). Kemudian konsumen memiliki kekuatan sikap positif pada suatu merek barang. Hal tersebut tergantung pada pemahamannya terhadap berbagai merek yang berbeda-beda (confidence), dan konsumen dapat menentukan apakah ia akan membeli barang tersebut yang sesuai dengan kebutuhan (intention). Jika konsumen tersebut telah mengetahui bermacam merek barang yang ia kehendaki, maka ia dapat merencanakan untuk membeli barang tersebut (output purchase). Apabila konsumen membeli barang sesuai dengan yang diharapkannya, maka ia akan mendapat kepuasan (satisfaction).
         Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model perilaku konsumen dengan bentuk hubungan timbal balik terdapat exogenous variables yang terdiri dari proses pengamatan (perceptual processes) dan proses belajar (learning processes).
Variabel proses pengamatan (perceptual processes) terdiri dari:
1.      Attention, merupakan reseptor-reseptor indera untuk mengendalikan penerimaan informasi.
2.      Stimulus ambiguity, yaitu ketidakpastian tentang yang diamati dan tidak adanya makna dari informasi yang diterima.
3.      perceptual bias (penyimpangan pengamatan), yaitu suatu distorsi dari informasi yang diterima.
4.      overt search (penelusuran nyata), yaitu penelusuran informasi secara aktif.
Variabel proses belajar terdiri dari: motif, yaitu suatu dorongan dari dalam diri untuk mencapai tujuan membeli. Choice criteria (kriteria memilih), yaitu seperangkat motif yang berhubungan dengan tingkat produk yang menjadi pertimbangan.
brand comprehension (pemahaman merek), yaitu pengetahuan tentang berbagai merek barang yang akan dibeli.
5.      attitude (sikap), yaitu kesukaan pada merek yang didasarkan atas kriteria memilih.
intention (niat, maksud), yaitu prediksi yang meliputi kapan, di mana, dan bagaimana konsumen bertindak terhadap suatu merek, dan dipengaruhi pula oleh faktor lingkungan.
6.      confidence (kepercayaan), yaitu keyakinan terhadap suatu merek tertentu.
satisfaction (kepuasan), yaitu tingkat penyesuaian antara kebutuhan denga pembelian barang yang diharapkan oleh konsumen.
perilaku konsumen pada dasarnya terbentuk karena adanya interaksi atau komunikasi antara produsen / pemasar dengan konsumen. Dalam suatu komunikasi yang efektif, dibutuhkan adanya interaksi aktif antar pelaku komunikasi (komunikan). Interaksi aktif itu sendiri merupakan perwujudan dari suatu hubungan timbal balik, dimana produsen (pemasar) memberikan informasi tentang produk yang diinginkan konsumen. Begitu pula konsumen, ia memberikan informasi (masukan) tentang kriteria produk yang dia inginkan. Sebagai dasar pertimbangan bagi perusahaan mengembangkan strategi pemasarannya. Strategi pemasaran yang dilakukan perusahaan tentunya memiliki tujuan untuk meningkatkan kepuasan konsumen terhadap produknya, guna meningkatkan penjualan dan laba perusahaan.
           Keadaan tersebut cukup menunjukkan fenomena riil dalam proses pengambilan keputusan konsumen. Dimana dalam gambaran keadaan di atas menunjukkan dominasi peranan suatu hubungan yang bersifat timbal balik, yaitu antara produsen / pemasok dengan konsumen dalam proses pengambilan keputusan konsumen, atas pembelian suatu barang
3.       Aplikasikan contoh model pengambilan keputusan pembelian produk pertanian organik untuk tingkatan analisis konsumen individu dan organisasi!
    
       Analisis konsumen individu dalam model pengambilan keputusan pembelian sawi organic. Model yang sederhana mengenai perilaku konsumen dikembangkan oleh Joe Kent Kerby. Kesederhanaan model ini sangat bermanfaat untuk mengetahui dasar-dasar perilaku konsumen. Jelasnya dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Model perilaku konsumen dari Kerby (Mangkunegara, 1988)
       Stimulus akan menimbulkan pengenalan kebutuhan konsumen. Apabila situasi tidak bersifat rutin, akan timbul motivasi untu melakukan kegiatan, mengevaluasi alternatif, dan dapat memuaskan kebutuhan. Dengan demikian akan dihasilakan aktivitas bertujuan (melakukan kegiatan terarah pada tujuan untuk memuaskan kebutuhan). Aktivitas tersebut akan menjadi kebiasaan apabila dievaluasi sebagai respon yang selalu dapat memuaskan secara optimal.
Mediational center merupakan pusat berpikir seluruh proses dalam bekerjanya variabel yang ada pada bagan. Variabel eksogen (exogenous variable) dari model Howard dan Sheth ditujukan pada model Kerby sebagai faktor manusia dan faktor sosial.
Faktor manusianya adalah persepsi, sikap, belajar, kepribadian, perhatian, daya ingat, dan keterbatasan ekonomi. Sedangkan faktor sosial adalah persaingan, tingkat sosial, kelompok anutan, dan lingkungan budaya (Mangkunegara, 1988).
Contoh Aplikasi : Ibu Dina mendapat informasi tentang buah organik, pada saat membaca koran. Kemudian bu Dina menuju ke Istana Buah Organik untuk melihat-lihat (stimulus). Saat melewati lorong rak buah bu Dina mengetahui tentang kondisi fisik buah organik, harga buah organik (need recognition). Bu Dina ingin mengetahui lebih lanjut mengenai  jeruk organik, bagaimana kelebihannya dibanding dengan jeruk anorganik secara rinci. Maka, ia pun bertanya pada pramuniaga. Saat pramuniaga menjelaskan, maka ibu Dina mendapat informasi yang lebih rinci tentang jeruk organic dari pramuniaga (atention). Penjelasan dari pramuniaga tersebut menimbulkan keinginan yang semakin kuat untuk membeli jeruk organik (motivation). Setelah termotivasi, ibu Dina merasa cocok dengan jeruk organik yang ada di rak. Dan dia berfikir bahwa jeruk organik tersebut dapat memuaskan kebutuhannya (satisfier evaluation). Ibu Dina kemudian memutuskan untuk membeli jeruk organik tersebut. Setelah melakukan pembelian, ibu Dina melakukan evaluasi terhadap jeruk organik yang dibelinya. Apabila cocok ditandai dengan adanya kepuasan, dan begitu pula dengan sebaliknya (action evaluation). Jika jeruk organik yang dibeli ternyata mampu memberikan kepuasan, maka akan menjadikan kebiasaan untuk membelinya lagi (habit). Pusat pemikiran bu Dina dalam melakukan berbagai keputusan diatas dipengaruhi oleh faktor person dan faktor sosial.
Klasifikasi tahapan :
Person Factor : kognisi
Mediational Center : diri sendiri
Social Factor : lingkungan
Stimuli : strategi
Need Recognition : afeksi
Tension : afeksi
Motivation : afeksi 
Satisfier Evaluation : afeksi
Action Evaluation : perilaku
Habit : perilaku
Perposive Action : perilaku
Analisis konsumen Organisasi dalam model pengambilan keputusan pembelian jeruk organic. Model ini merupakan pengembangan terhadap model perilaku konsumen dari Howard dan Sheth. Secara umum model ini berbeda dari model aslinya. Model ini merupakan model asli yang diaplikasikan untuk kelompok pembuat keputusan membeli dalam suatu organisasi.  Model ini mempunyai kesamaan dengan model aslinya, antara lain stimulus = information source, dan output (the suplier or brand choice). Penambahan di model Sheth ini ialah keputusan di ambil oleh kelompok. Oleh karena itu, penambahan pada proses belajar dan persepsi individu dalam model Sheth dimasukkan ke dalam proses interpersonal seperti resolusi konflik dan negosiasi (Mangkunegara, 1988).

Contoh Aplikasi : Melalui tren yang ada saat ini, masyarakat sedang gencar-gencarnya melakukan pola hidup sehat, salah satunya yaitu dengan mengkonsumsi sayuran organik (information source). Melihat peluang yang menjanjikan tersebut sebuah hypermarket mulai membidik peluang bisnis dalam pengadaan sayuran organik. Pihak Quality Control menghendaki sayuran organik yang mempunyai kualitas baik. Sedangkan manajer keuangan mengharapkan dapat memperoleh sayuran organik dari suplier dengan harga yang rendah (expectation). Dari kedua belah pihak tersebut menyadari bahwa jika terus-menerus mencari sayuran organik yang murah dengan kualitas prima, maka perusahaan akan kehilangan peluang untuk menyediakan sayuran organik yang dibutuhkan konsumen (industrial buying process).
Kedua perbedaan pemikiran tersebut dapat dinegosiasikan (conflict resolution) sehingga diperoleh suatu keputusan untuk memilih suplier sayuran organik yang mampu memberikan kualitas dan harga yang pantas dan memenuhi syarat bagi perusahaan (suplier and brand choice).




DAFTAR PUSTAKA

Amirullah. 2001. Perilaku Konsumen. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Anominous.2012.Prespektif Perilaku Konsumen .http://arsipkuliah.blogspot.com/2009/12/perspektif-perilaku-konsumen.html di akses pada 15 Sepetember 2012
Anonimous.2012.Perilaku Konsumen .http://slametwidodo89.blogspot.com/2011/02/perilaku-konsumen.html di akses pada 15 September 2012
Ferrinadewi, Erna. 2008. Merek dan Psikologi Konsumen. Implikasi pada Strategi Pemasaran.  Graha Ilmu. Yogyakarta
Mangkunegara, A. Prabu. 1988. Perilaku Konsumen. Eresco. Bandung
Mowen, John C dan Michael Minor. 2002. Perilaku Konsumen Jilid 1. Penerbit Erlangga. Jakarta.
Peter, J. Paul dan Olson. 1999. Consumer Behaviour : Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran. Erlangga. Jakarta
Sumarwan, Ujang. 2004. Perilaku Konsumen Teori dan Penerapannya dalam Pemasaran. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Peningkatan Produktivitas Jagung dengan Varietas Unggul


Upaya Peningkatan Produksi Jagung dengan Varietas unggul
Benih merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan budidaya tanaman yang perannya tidak dapat digantikan oleh faktor lain. Karena benih sebagai bahan tanaman dan sebagai pembawa potensi genetik terutama untuk varietas-varietas unggul. Keunggulan varietas dapat dinikmati oleh konsumen bila benih yang ditanam bermutu 
Salah satu penyebab utama rendahnya produktivitas padi, jagung dan kedelai karena varietas yang biasa ditanam petani  tidak mampu lagi berproduksi lebih tinggi akibat kemampuan genetiknya yang terbatas . Kebiasaan petani dalam budi daya jagung menggunakan benih yang ditanam turun temurun sehingga produksinya tidak optimal.
Penggunaan varietas unggul merupakan salah satu upaya peningkatan produksi jagung. Selain dapat memberikan hasil tinggi, varietas unggul juga berperan dalam pengendalian hama dan penyakit.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan jagung pun semakin meningkat pula. Selain sebagai bahan pangan utama setelah padi, jagung banyak digunakan sebagai bahan baku industri pakan ternak, dan juga bahan baku industri makanan. Pada saat produksi tidak memadai, tidak ada jalan lain, impor pun terpaksa dilakukan..
Ada berbagai peluang yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi jagung, di antaranya melalui penggunaan varietas unggul, baik yang bersari bebas maupun hibrida. Varietas unggul memiliki peranan yang lebih besar dalam peningkatan produktivitas di antara komponen teknologi lain dalam produksi jagung. Selain memberikan hasil tinggi, varietas unggul juga berperan dalam pengendalian hama dan penyakit.
Potensi varietas unggul dalam meningkatkan poduksi pertanian dapat dilihat dari karakter varietas unggul seperti daya hasil tinggi , ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu, umur genjah, kandungan khusus tertentu (pulen, kadar protein tinggi dll.). Keberhasilan diseminasi teknologi varietas unggul ditentukan antara lain oleh kemampuan industri benih untuk memasok benih hingga sampai ketangan petani.
Dalam memilih varietas unggul yang akan ditanam, harus mempertimbangkan kondisi lingkungan (tanah dan iklim), keinginan petani misalnya varietas yang toleran kekeringan, toleran tanah masam, dan juga sesuai dengan kesukaan petani pada sifat lainnya seperti umur dan warna biji.
Kurun waktu tahun 2000-2008, Badan Litbang Pertanian melalui Balai Penelitian Tanaman Serealia, telah melepas 15 varietas unggul jagung, yang terdiri atas 8 varietas jagung bersari bebas/komposit, dan 7 varietas hibrida.
Varietas Jagung Bersari Bebas/Komposit Varietas jagung bersari bebas dapat berupa varietas sintetik maupun komposit. Varietas sintetik dibentuk dari beberapa galur inbrida yang memiliki daya gabung umum yang baik, sedangkan varietas komposit dibentuk dari galur inbrida, varietas bersari bebas, dan hibrida.
Varietas bersari bebas/komposit memiliki keunggulan, di antaranya adalah berumur pendek, biasanya tahan penyakit, tidak menimbulkan ketergantungan dan bisa ditanam secara berulang-ulang tanpa harus membeli di toko karena bisa diturunkan. Varietas bersari bebas/komposit diciptakan untuk mengakomodir berbagai kondisi lahan, seperti tanah masam atau kekeringan.


Anonimous.2012.Pembinaan Penangkar dan Perbanyakan Benih Sumber Varietas Unggul Padi, Jagung dan Kedelai (APBN)http://sulteng.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/diseminasi/2009/139--pembinaan-penangkar-dan-perbanyakan-benih-sumber-varietas-unggul-padi-jagung-dan-kedelai-apbn di akses pada 13 September 2012

 

Samsu.2012. Berbagai Pilihan Varietas Unggul Jagung Produk Badan Litbang Pertanian http://jsc.jogjaprov.go.id/informasi/artikel/889-berbagai-pilihan-varietas-unggul-jagung-produk-badan-litbang-pertanian  di akses pada 13 September 2012

 


laporan usahatani : packcoy


LAPORAN
USAHATANI
“PACKCOY
logo UB baru.jpg












1.             Tiffany Rahma A  115040100111155
2.             Susi Susanti            115040100111024
3.             Tiara Shahnaz I    115040100111019
4.             Vika Sari                115040101111165
5.             Tamsil Aris W       115040100111098

PROGAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2012



PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
Indonesia merupakan negara agraris yang mana sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Tidak heran jika bentangan dan hamparan sawah terlihat dimana-mana. Namun seiring bertambahnya tahun, ketersediaan lahan berkurang dan semakin sempit karena adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan. Maka daripada itulah sebagai jalan alternatif, petani harus pandai-pandai memanfaatkan lahan sempit seefektif mungkin. Salah satu caranya dengan pengolahan lebih lanjut pada tingkat pasca panen. Mungkin tidak semua petani yang mampu dan bersedia melakukan cara alternatif ini, tetapi jika hal ini dapat dikuasai maka keuntungan lebih bisa didapat. Pemanfaatan dari keseluruhan alur tersebut dapat dipelajari pada ilmu usahatani.
Ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani mengalokasikan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Dengan adanya pengetahuan dapat dimanfaatkan petani agar lebih mengerti tentang pengolahan komoditas yang dihasilkan mulai dari hulu sampai hilir. Usahatani ini dapat diterapkan dimana saja, baik pedesaan maupun perkotaa. Pada daerah pedesaan, kegiatan pertanian merupakan kegiatan yang lumrah dilakukan. Kondisi ini berbeda dengan daerah perkotaan yang jarang ditemukannya kegiatan pertanian. Hal ini dipengaruhi karena lahan yang terbatas dan keengganan dari warga setempat untuk bercocok tanam. Padahal dengan bercocok tanam warga dapat memanfaatkan barang-barang bekas sebagai media tanam dan mengurangi jumlah polusi udara.
Dengan adanya pemeliharaan dan pengolahan yang baik hasil dari bercocok tanam tersebut dapat dimanfaatkan sendiri atau bisa dijual untuk menambah penghasilan. Oleh karenanya pembelajaran tentang ilmu usaha tani perlu perlu dipahami, bukan saja oleh petani tetapi juga bagi orang-orang yang ingin berkecimpung pada kegiatan pertanian. Sebagai negara agraris hendaknya hal ini dapat diperhatikan karena pada dasarnya negara Indonesia memiliki kekayaan komoditas yang dapat dimanfaatkan keberadaanya.
1.2     Tujuan
Dengan adanya makalah ini maka dapat disimpulkan bahwasanya makalah ini memeliki tujuan penulisan, antara lain:
a)      Untuk mengetahui tentang pengertian ustan
b)      Untuk memahami tentang rumus-rumus dan analisis data sesuai dengan pengamatan yang telah dilakukan
c)      Untuk lebih memahami tentang komoditas-komoditas yang telah dikembangkan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Usahatani
 Usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mngusahakan dan mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan dan alam sekitarnya sebagai modal sehingga memberikan manfaat yang sebaik-baiknya. Sebagai ilmu pengetahuan, ilmu usahatani mrupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan penggunaan faktor faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin.
Beberapa definisi usahatani menurut para ahli :
1.      Menurut Daniel
Ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara petani mengkombinasikan dan mengoperasikan berbagai faktor produksi seperti lahan, tenaga, dan modal sebagai dasar bagaimana petani memilih jenis dan besarnya cabang usahatani berupa tanaman atau ternak sehingga memberikan hasil maksimal dan kontinyu.
2.    Menurut Efferson

Ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari cara-cara mengorganisasikan dan mengoperasikan unit usahatani dipandang sudut efisien dan pendapatan yang kontinyu.

3.      Menurut Vink
Ilmu usahatani merupakan ilmu yang mempelajari norma-norma yang digunakan untuk mengatur usaha tani agar memperoleh pendapatan yang setinggi-tingginya.

4. Menurut Prawirokusumo
Usahatani merupakan ilmu terapan yang membahas atau mempelajari bagaimana membuat atau menggunakan sumberdaya secara efisien pada suatu usaha pertanian, peternakan, atau perikanan. Selain itu, juga dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari bagaimana membuat dan melaksanakan keputusan pada usaha pertanian, peternakan, atau perikanan untuk mencapai tujuan yang telah disepakati oleh petani/peternak tersebut.

Dari berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan melalui produksi pertanian yang berlebih maka diharapakan memperoleh pendapatan tinggi. Dengan demikian, harus dimulai dengan merencanakan untuk menentukan dan mengkoordinasikan penggunaan faktor-faktor produksi pada waktu yang akan datang secara efisien sehingga dapat diperoleh pendapatan yang maksimal. Dari definisi tersebut juga terlihat ada pertimbangan ekonomis di samping pertimbangan teknis

2.2 Analisis Usahatani
Dalam tiap jenis usaha produksi ( uasahatani), selalu terdapat hubungan antara input (masukan ) dan output (hasil).hubungan itu sering disebut dengan “hubungan fungsional” antara input dan output.
Beberapa definisi tentang banyak makna atau artinya biaya usahatani, diantaranya:
a)      Merupakan pegangan untuk menemukan landasan utama dalam menyusun rencana pengelolaan dan anggaran usahatani.
b)      Merupakan petunjuk penentuan saat yang tepat guna mengadakan perubahan – perubahan dalam usahatani
c)       Merupakan arah guna menemukan cara untuk mengadakan perbandingan kemajuan – kemajuan yang tercapai dalam usahatani itu sendiri (perbandingan vertikal atau keatas) atau perbandingan antara usahatani yang satu dengan yang lain (perbandingan horizontal atau mendatar.
Jika  demikian maka dapat dikatakan bahwa hubungan funfsional antara input dan output itu merupakan landasan utama dari rencana pengelolaan dari anggaran usahatani. Karenanya maka unsur – unsur dari input (masukan) dan output (hasil) itu harus jelas cara menghitungnya.
Dalam hal tertentu, biaya adalah seperti apa yang kita pikirkan. Seperti semua gambaran usahatani lainnya, biaya jelas dan mudah diukur (seperti uang tunai yang keluar dari kantong) sedangkan lainnya merupakan hal yang tersembunyi ( biaya non tunai seperti mesin yang akan habis dalam beberapa tahun , tetapi susut secara perlahan-lahan) dan hanya diduga secara kasar.
            Biaya usahatani itu sendiri mempunyai arti semua pengeluaran yang dipergunakan dalam suatu usahatani. Biaya usahatani biasanya diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
a)      Biaya tetap (fixed cost)
Yaitu seluruh biaya yang tidak langsung berkaitan dengan jumlah tanaman yang dihasilkan diatas lahan ( biaya ini harus dibayar apakah menghasilkan sesuatu atau tidak, termasuk didalamnya sewa lahan, pajak lahan, pembayaran kembali pinjaman, biaya hidup).
Biaya tetap kadang-kadang disebut overhead adalah biaya-biaya yang dalam batas tertentu tidak berubah ketika tingkat kegiatan berubah. Jadi, kenaikan penggunaan lahan sebanyak 20% untuk suatu jenis tanaman, atau jumlah ternak, tidak meningkatkan biaya tetap. Apabila kenaikan sebesar 100% sekalipun, akan meningkatkan biaya tetap.
Pada kebanyakan usahatani, biaya-biaya tetap tidak terlalu banyak berubah mengikuti tingkat atau campuran perubahan kegiatan kecuali, tentu saja kenaikan karena pertambahan biaya.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhQzhGKkDASljcl0so8jyQnzUpecYwoCcw50GGCnJ_vnOdd0qL9QqqQ5tLhRcyZtDUwGMaObdEes89txrdCgrH0yZHvZnohPJchwY5fSgpO6tP1WysJYgceNk90E3FJCEBNZOQF1rdScrw/s1600/KURVA1.bmp




Kurva Biaya Tetap
Biaya tetap total (TFC) dilukiskan sebagai garis lurus (horizontal) sejajar dengan sumbu kuantitas. Hal ini menunjukkan bahwa berapapun jumlah out­put yang dihasilkan, besarnya biaya tetap total (TFC) tidak berubah yaitu sebesar n.
b)     Biaya tidak tetap (variable cost)
Yaitu seluruh biaya yang secara langsung berkaitan dengan jumlah tanaman yang diusahakan dan dengan input variabel yang dipakai (misalnya penyiangan, tenaga kerja, pupuk, bibit).
Biaya variabel juga dikenal sebagai biaya-biaya langsung. Biaya-biaya ini berubah-ubah mengikuti ukuran dan/atau tingkat output suatu kegiatan. Misalnya, jika lahan yang ditanami suatu komoditas diperluas 50%, maka bibit, pupuk, dan tenaga kerja  juga akan bertambah (walaupun tidak harus 50%).
Upaya untuk mengidentifikasi biaya-biaya variabel suatu kegiatan dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada petani mengenai besarnya perubahan biaya jika memperluas atau mengontrak kegiatan apapun.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgCSGJwlc6U4juDSfHDpWGwXORxWNZpoQy0YynAh_uUjUpukuuaiTRRYknYAtX66PVQY_uKfpNWvKHJUwzB0-uxbOtsgTADq45_GKg1IQIlaX3kIa_EBhpHQkSNpRcIhLcq_xfia44SwiM/s320/KURVA2.bmp





Kurva Biaya Variabel

Gambar yang menunjukkan bahwa kurva biaya variabel total terus menerus naik. Jadi semakin banyak output yang dihasilkan maka biaya variabel akan semakin tinggi.
Adapun macam-macam perhitungan dalam usahatani adalah sebagai berikut :
1.      Perhitungan Biaya
TC = f (sewa tanah, tenaga kerja, pupuk. Bibit, pestisida )
TC = TFC + TVC
Dalam hal ini semua biaya diatas dijumlahkan, sehingga diketahui total cost

Masing-masing biaya dapat dihitung rata-ratanya yaitu tiap jenis biaya tersebut tersebut dibagi dengan jumlah produk yang dihasilkan (Q), yaitu:
ž  Biaya tetap rata-rata/average fixed cost (AFC)
            AFC = TFC/Q
ž  Biaya variabel rata2/average variabel cost (AVC)
            AVC = TVC/Q
ž  Biaya total rata-rata/average total cost (ATC)
            ATC = TC/Q

2.      Perhitungan penerimaan
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Penyataan tersebut dapat dinyataan dalam rumus sbb:
      TR = Y x Py
Dimana:           TR: Total penerimaan
Y : Produksi yang diperoleh dalam usahatani
                        Py: Harga Y

3.      Perhitungan pendapatan
Pendapatan kotor/penerimaan total adalah nilai produksi komoditas pertanian secara keseluruhan sebelum dikurangi biaya produksi.  Pendapatan usahatani dapat dirumuskan sbb:
Pd = TR – TC
        TR= Y.Py
        TC= FC + VC

Dimana:
            Pd        :Pendapatan usahatani
            TR       :Total Penerimaan (total revenue)
            TC       :Total biaya (total cost)
            FC       :Biaya tetap (fixed cost)
            VC      :Biaya variabel (variabel cost)
            Y         :Produksi yang diperoleh dalam suatu usahatani
            Py        :Harga
4.      R/C Ratio
Analisis return cost (R/C) rasio merupaan perbandingan(rasio/nisbah) antara penerimaan (revenue) dan biaya(cost).  Penyataan tersebut dapat dinyatakan dalam rumus sbb:
 a = R/C
 R = Py x Y
 C = FC + VC
 a = Py x Y(FC+VC)
Dimana:
 a = R/C ratio                          Py = Harga output
 R = Penerimaan (Revenue)    Y  = output
 C = biaya (cost)                      FC=biaya tetap(fixed cost)
Kriteria keputusan;
R/C>1, usahatani untung
R/C<1, usahatani rugi
R/C=1, usahatani impas(tidak untung dan tidak rugi)

5.      B/C Ratio

Analisis benefit cost(B/C) ratio merupaan perbandingan (rasio atau nisbah) antara manfaat benefit dan biaya(cost).
R/C ratio  = Penerimaan   Biaya

Kriteria keputusan :
B/C>1, Usahatani menguntungkan(tambahan            manfaat/penerimaan lebih besar dari tambahan             biaya)
B/C<1, usahatani rugi(tambahan biaya lebih besar dari          tambahan penerimaan)
B/C=1, Usahatani impas(tambahan penerimaan sama dengan           tambahan biaya)

2.3 Profil Packcoy
Salah satu jenis sawi yang mulai banyak di kenal adalah pakcoy (Brasicca Rapa L) yaitu sayuran yang termasuk keluaraga Brassicaceae atau sejenis kubis-kubisan. Sawi yang berbentuk sendok atau Pakcoy sendiri di kenal berasal dari daratan Cina. Daun pakcoy bertangkai berbentuk oval, berwarna hijau tua dan mengkilat, tumbuh agak tegak dan tersusun berimpitan secara spiral.
Sayuran sawi sendok atau pakcoy ini banyak di temui di daerah Lembang jawa barat, suhu yang dingin menghasil-kan kualitas sayuran pakcoy yang lebih baik.  Tanaman pakcoy sendiri dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun dataran tinggi dan dapat di tanam sepanjang musim, jika terjadi musim kemarau pemberian air secara teratur perlu di perhatikan meskipun suhu udara cukup tinggi namun dengan kecukupan air sayuran pakcoy akan bisa tumbuh  meskipun tetap tidak bisa sebaik hasil dari dataran tinggi dengan suhu dingin.Dapat di panen dari usia 45 hari (baby pakcoy) hingga usia 2.5bulan setelah usia tanam
Tanah yang cocok untuk di tanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur serta pembuangan air yang baik, derajat keasaman tanah (pH) antara pH6 sampai pH7. Tanaman sawi adalah salah satu tanaman yang bisa di budidayakan dengan menggunakan media aquaponic yaitu media yang bersimbiosis mutualisme dengan kolam ikan.
Jenis sayuran ini banyak berguna bagi manusia karena kandungan gizi-nya dan di percaya bisa mengurangi gejala osteoporosis karena kandungan Kalsium-nya yang tinggi. Banyak di gunakan untuk campuran mie ayam atau nasi goreng, di tumis, untuk lalapan dan lain-lain.
Sayuran berdaun hijau ini termasuk tanaman yang tahan terhadap air hujan, dan dapat dipanen sepanjang tahun tidak tergantung dengan musim. Disamping kemudahan dalam proses budidaya, sayur sawi juga banyak dijadikan sebagai peluang bisnis karena peminatnya yang cukup banyak. Permintaan pasarnya juga cukup stabil, sehingga resiko kerugian petani sangat kecil.
Untuk membudidayakan sawi pakcoy, sebaiknya pilih daerah yang memiliki suhu 15-30° celcius, dan memiliki curah hujan lebih dari 200 mm/bulan. Sehingga tanaman ini cukup tahan untuk dibudidayakan di dataran rendah. Tahapan budidaya sawi pakcoy di dataran tinggi dan di dataran rendah juga tidak terlalu berbeda, yaitu meliputi penyiapan benih, pengolahan lahan, teknik penanaman, penyediaan pupuk dan pestisida, serta proses pemeliharaan tanaman.
a) pembibitan
·         Benih ditabur pada permukaan bedengan lalu ditutup dengan tanah setebal 1-2 cm
·         Lakukan perawatan dengan penyiraman menggunakan sprayer atau embrat
·         Benih yang baik biasanya akan tumbuh setelah 3-4 hari
·         Setelah berdaun 3-5 helai (3-4 MST) tanaman dipindah ke bedengan penanaman
b) pengolahan lahan
·         Tanah digembur serta dibuat bedengan, sebelum lahan harus benar-benar bersih dan tidak boleh ternaungi
·         Saat penggemburan diberi pupuk kandang sebagai pupuk dasar
·         Penggemburan dilakukan 2-4 minggu sebelum lahan ditanam
·         Lebar bedengan 120 cm, panjang sesuai ukuran petak tanah, tinggi 20-30 cm dan jarak antara bedengan 30 cm
·         Dosis dan waktu aplikasi pemupukan
umur
Urea
ZA
Sp36
Kcl
Target Ph

Kg/ha/musim tanam
6.5
Perplant
187
311
311
112
-
4MST
187


112
-
 MST= Minggu Setelah Tanam

c)      Penanaman
·         Pilih bibit yang baik, yitu batangnya tumbuh tega, daun hijau segar dan tidak terserang hama atau penyakit
·         Buat lubang tanam dengan ukuran 4-8 x 6-10 cm, pindahkan bibit ke lubang tanam dengan hati-hati dan rapikan
d)     Pemeliharaan
·         Penyiraman dilakukan secara teratur, terutama pada musim kemarau
·         Penjartangan boasanya dilakukan pada saat 2 MST
·         Penyulaman jika perlu
·         Penyiangan dapat dilakukan 2-4 kali selama pertanaman
·         Pemupukan tambahan pada saat 3 MST dengan pemberian urea 50kg/ha, yang bisa dilakukan dengan ditaburdalam larikan lalu ditutup dengan tanah atau dilarutkan dalam air lalu disiram pada bedengan penanaman
e)      Hama dan peenyakit
·         Hama yang biasanya menyerang tanaman, antara lain: ulat, tritip, siput, cacing bulu, ulat crocidolomia binotalis dan ulat thepa javanica
·         Penyakit yang biasanya menyerang ialah bakteri, virus, jamur dan gangguan fisiologi yang bisa saja terjadi
·         Hama dan penyakit tanaman dapat dikuasai dengan mudah antara lain dengan pemberian obat tertentu pada saat yang tepat
f)    Manfaat pak coy
·         Cegah osteoporosis
·         Memiliki asam folat yang berguna untuk ibu hamil
·         Memiliki serat unggul dan kaya mineral untuk menurunkan kadar kolesterol dan gula darah
·         Untuk mencegah kanker
·         Turunkan LDL dan naikkan HDL
Komposisi gizi
Zat Gizi
Kadar
AKG (%)
Densitas Gizi
Worlds Healthiest Foods Rating
Vitamin K
(mkg)
419,3
524,1
449,2
Excellent
Vitamin A
(iu)
4243,4
84,9
72,7
Excellent
Vitamin C
(mg)
35,42
59,0
50,6
Excellent
Folat (mkg)
102,76
25,7
22,0
Excellent
Mangan (mg)
0,38
19,0
16,3
Excellent
Vitamin E (mg)
2,81
14,1
12,0
Excellent
Triptofon (g)
0,04
12,5
10,7
Excellent
Serat pangan (g)
2,8
11,2
9,6
Excellent
Kalsium (mg)
103,6
10,4
8,9
Very good
Kalium (mg)
282,8
8,1
6,9
Very good
Vitamin B6 (mg)
0,14
7,0
6,0
Very good
Protein (g)
3,16
6,3
5,4
Very good
Tembaga (mg)
0,12
6,0
5,1
Very good
Fosfor (mg)
57,4
5,7
4,9
Very good
Besi (mg)
0,98
5,4
4,7
Very good
Vitamin B2 (mg)
0,09
5,3
4,5
Very good
Magnesium (mg)
21
5,3
4,5
Very good
Vitamin B1 (mg)
0,06
4,0
3,4
Good
Vitamin B3 (mg)
0,61
3,0
2,6
Good
Keterangan: AKG=Angka Kecukupan Gizi



PEMBAHASAN

3.1  Analisis Laporan Keuangan

-          Harga tanah
Tanah 4 Pick Up digunakan untuk mengisi 1000 polybag. Jika harga tanah 1 Pick Up adalah Rp 150.000,00 Maka:
Harga tanah 1 polybag adalah: (Rp 150.000,00 x 4) / 1000 =  Rp 600,.
Harga tanah 10 polybag adalah : Rp 600,. x 10 = Rp 6.000,.

-          Harga Pupuk
Pupuk 40 kg harganya Rp. 22.000,. Sedangkan 1 polybag membutuhkan 1 kg pupuk. Maka :
Harga pupuk dalam 1 polybag : (Rp.22.000,./40) = Rp 550,.
Harga pupuk dalam 10 polybag : (Rp 550,. x 10 = Rp 5.500,.

-          Harga Benih
Komoditas Pakcoy Hijau, 1 sachet benih 20 gram harganya Rp 12.000.,
Sedangkan jumlah kelompok satu angkatan yang menanam Pack Coy sebanyak 26 kelompok.Sehingga dapat di hitung : 12000/26 = 461,53.
Dengan demikian untuk 200 benih yang di tanam per kelompok harnganya kurang lebih Rp.450,.

-          Harga Polybag
Harga untuk 10 polybag yang digunakan yaitu RP 4.250

-          Harga sekam
Sekam yang digunakan sebagai media penyemaian, harganya Rp 5000,. per bungkus.

-          Air dan listrik
Biaya penggunaan air diasumsikan Rp 3.000, selama proses produksi

-          Transportasi
Biaya transportasi sekali kunjungan adalah Rp 5.000,..
Biaya transportasi sekali kunjungan untuk 3 buah sepeda motor yang digunakan adalah Rp 5.000,. x 3 = Rp 15.000,.
Dalam seminggu dilakukan 2 kali kunjungan , = Rp 15.000,.
Jika telah melakukan kunjungan sebanyak 9 kali maka : Rp.15.000 x 9 = Rp 135.000

-          Tenaga kerja
Biaya Tenaga kerja adalah setiap kunjungan membutuhkan waktu rata-rata 2 jam dengan frekuensi 2 kunjungan per minggu jadi,
= (Rp 2.500,. x 2 jam) = Rp.5.000/anak/kunjungan
 Kemudian dalam seminggu dilakukan  2 kali kunjungan = Rp 10.000,. per anak/minggu.
Jadi biaya tenaga kerja untuk 5 orang anak yaitu Rp 5000,. x 5 = Rp 25.000,./anak/kunjungan
Dengan demikian bila telah melakukan kunjungan sebanyak 9 kali maka :
 Rp.25.000  x 9 = Rp.225.000

45 hari x 5 menit  = 225  menit
225 menit : 60 menit = 3,75 jam
Rp.2.500 x 1 (Bapak nya) = Rp 2.500,-


Tabel Akumulasi biaya per kunjungan
Waktu
Kegiatan
Nilai
29 - 09 - 2012
Penyemaian benih
-          Tenagakerja
-          Benih
-          Sekam
-          Tanah
-          Polybag
-          Air dan listrik
-          Transportasi
-          Pupuk

Rp. 25.000/5 orang
Rp. 400
Rp 5.000
RP 6.000/10 polybag
RP 4.250
Rp 3.000
Rp 15.000/kunjungan
Rp 5.500
4 – 10 – 2012
Perawatan
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik

Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

8  - 10 - 2012
Penyemaian benih
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik

Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

11 – 10 - 2012
Perawatan
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik

Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

13 – 10 – 2012
Perawatan & Pemupukan
-     Pupuk
-     Transportasi
-          Tenagakerja
-     Air dan listrik


Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

15 – 10 – 2012
Perawatan
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik

Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

18 – 10 - 2012
Perawatan
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik

Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

24 – 10 – 2012
Perawatan
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik

Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang

5 -11 - 2012
Pengukuran, Perawatan dan Pemupukan
-          Transportasi
-          Tenagakerja
-          Air dan listrik
-          Pupuk



Rp 15.000/kunjungan
Rp. 25.000/5 orang





No.
Uraian
vol
Nilai (Rp)

Biaya Variabel


1
Benih
200 biji
450
2
Pupuk
10 kg
5.500
3
Tenaga kerja
5 orang
225.000
4
Air + Listrik

3000
5
Transportasi
3 motor
135.000

Biaya Tetap


6
Tanah

6.000
7
Polybag
10 buah
4.250







DAFTAR PUSTAKA

Anonymousa.2012.Definisi Usahatani. http://cerdaswakatobi.blogspot.com/2011/06/definisi-ilmu-usahatani.htm di akses pada 5 November 2012
Anonymousb.2012.Usahatani Kangkung. http://fhancu.blogspot.com/ di akses pada 5 November 2012
Viena.2012.Sayuran Packcoy (sawi). http://viena-homegardening.blogspot.com/2012/06/sayuran-pakcoy-sawi.html di akses pada 5 November 2012